Agustus Ajang Srawung (AAS)

Good morning/afternoon/evening readers!!
Pada tulisan kali ini penulis akan beberkan beberapa kisah yang tertera pada benak dan ingatan penulis seputar Agustusan. Yups.. semua dari kita tahu bahwasanya bulan agustus merupakan bulan kemerdekaan Negara Indonesia tercinta, akan tetapi bagi sebagian orang (termasuk penulis tentunya) bulan agustus tahun ini cukup membesit dalam benak dan tak terlupa momennya dikarenakan ada satu atau dua bahkan banyak hal yang dipelajari penyelenggara event.
Potret Penulis membawakan acara bersama partner dari RT 47

Penulis sendiri alami betul menjadi pembawa acara dalam rangka hari kemerdekaan yang dirayakan di komplek padukuhan terdiri dari 6 RT dan dihadiri sekitar 900 orang . Untuk pertama kalinya penulis menyanggupi permintaan panitia lokal menjadi master of ceremony (MC). Penulis bersama partner membawakan acara mulai 13.00 WIB pada tanggal 19 Agustus 2023. Semua berjalan lancar hingga berakhirnya display  RT 46 yang berujung pada keinginan beberapa pihak untuk memangkas durasi display. Kesalahan penulis memang tidak bisa tetap mengacu pada panduan yang sudah disepakati agar semua berjalan sesuai susunan yang ditetapkan. Usai penampilan RT 46 penulis tetapkan display selanjutnya sebatas 5 menit saja. Namun pada saat RT 47 tampil durasi 5 menit tidak cukup dan terpaksa musik dimatikan dari pihak sound atas inisiatif pembawa acara.

Berlanjut... warga yang tidak terima pertunjukan dihentikan melakukan protes dan merasa penyelenggaraan kurang adil. Jujur pada saat tersebut semua terasa berat dan penuh tekanan, hingga pada akhirnya penulis dipanggil beberapa kali oleh pemuda dari RT yang bersangkutan. Tak dapat dipungkiri rasa kecewa menyelimuti mereka yang tak bisa tampil dengan maksimal, penulis pun serba salah karena pada saat yang bersamaan tidak bisa menyalahkan pihak manapun (murni kesalahan penulis).

Acara berlangsung hingga menjelang magrib dan penulis pun menutup acara seraya menyampaikan permintaan maaf setulus hati terkhusus kepada warga RT 47. Tak cukup sampai di situ, dirasa kurang menjawab kekecewaan yang telah terjadi penulis beserta seluruh pemuda dan Kepala Dukuh harus hadir meminta maaf pada warga RT ybs. Hal tersebut bila diibaratkan terasa seperti nilon kusut yang tak bisa digunakan untuk menerbangkan layang-layang, keras, ruwet, dan menjengkelkan. Pada akhirnya, setelah penulis diberi kesempatan menyampaikan kronologi kejadian dan alasan mengapa musik dihentikan warga pun memaklumi dan cairlah suasana.

Akhir tapi bukan berarti berakhir... penulis memerlukan waktu lebih dari satu bulan (hingga dapat menuangkan pengalaman penulis dalam blog kali ini)untuk memperbaiki mental pasca kejadian. Guys... pesan hidup kali ini, penulis sampaikan kepada kalian agar supaya semakin dan selalu berhati-hati dalam menyelenggarakan acara sekecil apapun skala acara yang diselenggarakan itu.


#saikhap #pesanhidup #ngipik


Komentar

Postingan populer dari blog ini

We Grow Together!!

Resign, KIJ, dan Al Ghifari