Pola Asuh yang Salah berimbas pada Tantangan bagi Guru (Wrong Parenting becomes a challenge for the teachers)
Dear readers, several months previously I got new experience in teaching (again)
Terlampau jauh orang-orang yang berfikiran bahwa pola asuh mereka terhadap anak sudah benar. Berdasarkan keadaan tersebut banyak yang menyepelekan pelatihan pola asuh atau kelas-kelas parenting dan tidak berminat mengambil kelas-kelas tersebut. Akibatnya ketika anak melakukan kesalahan di sekolah, orang tua cenderung denial terhadap laporan yang disampaikan gurunya. Lagi dan lagi, isu terkait guru di Indonesia tidak ada habisnya. Kecenderungan menyalahkan guru atas kejadian yang tidak diharapkan di sekolah menjadi hal yang lazim ditemui di sekolah. Padahal, pada kasus seperti ini terjadi akibat pola asuh orang tua yang mengakibatkan anak memiliki ADHD (salah satunya).
Mari kita bahas lebih jauh apa itu ADHD. Attention Defisit Hyperactivity Disorder atau dikenal dengan ADHD merupakan keadaan di mana anak sulit fokus dan cenderung memiliki kemampuan kinestetik dalam belajar. Memang tidak ada masalah dalam metode belajar anak, akan tetapi anak dengan ADHD cenderung belum bisa mengontrol emosi dan sering tantrum saat keinginannya tidak tercapai atau merasa kecewa akibat suatu hal. Dikutip dari postingan https://www.instagram.com/reel/DGNoGxxPJDz/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== yang menjelaskan bahwa anak dengan ADHD perlu memperoleh perhatian khusus dan penanganan tersendiri daripada anak-anak lain seusianya.
Berdasarkan pengalaman penulis, kasus tantrum cukup rawan di kalangan sekolah dasar. Hal ini disebabkan anak usia SD belum memiliki kontrol emosi yang bagus, pun jika tidak didukung oleh pola asuh yang baik maka anak akan kesulitan mengontrol emosi. Jika lama dibiarkan, anak dengan ADHD nantinya akan memiliki potensi menjadi NPD (Narsistic Personal Disorder) yang cenderung menganggap orang di sekitarnya harus mengorbit hanya kepadanya. Keadaan tersebut memicu kestabilan emosi dan menyebabkan anak yang bersangkutan cenderung bermasalah dengan teman sekelas namun tidak merasa bersalah dan tidak pernah mau mengakui kesalahan. Sekeras apapun guru mencoba memberi tahu, menasehati, pun membujuk agar anak mau meminta maaf tidak akan berguna. Oleh karena itu, parenting atau kelas mendidik anak harus mulai diwajibkan bagi mereka yang sudah menikah dan akan memiliki anak.
Tidak hanya untuk anak pertama ya readers... karena dalam satu keluarga, pastinya karakteristik anak berbeda-beda. Alangkah lebih baik jika parents bijak dalam mendidik anak dengan mengambil kelas parenting di masa anak masih menempuh pendidikan dasar dan masih bisa dibantu untuk pengelolaan emosinya. For the readers who has taken the parenting class, I appreciate that. Kalian telah membantu meringankan beban guru di sekolah dengan usaha mendidik anak kalian secara mandiri. Selebihnya setiap sekolah pasti berusaha semaksimal mungkin agar pertumbuhan anak kalian diiringi pendidikan karakter moral dan religius sehingga kelak akan menjadi pribadi yang good attitude.
Thank You for taking time to read this, see U at the next writing
Komentar
Posting Komentar